Aerial view of a forest and river landscape highlights RGE’s sustainability policy and commitment to responsible environmental stewardship.
Kehutanan presisi

Produksi-proteksi

Apa itu model produksi-proteksi APRIL

APRIL Group menerapkan model produksi-proteksi yang memadukan perkebunan serat dengan kawasan restorasi dan konservasi hutan alam. Pendekatan ini membantu menjaga hutan dari ancaman eksternal dan pencaplokan lahan, sekaligus menghasilkan dana untuk mendukung upaya konservasi lebih lanjut.

Dengan menyeimbangkan pertimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, model produksi-proteksi telah terbukti efektif untuk kawasan konservasi dan restorasi di Indonesia selama lebih dari satu dekade.

Dalam model produksi-proteksi, perkebunan menyediakan pendanaan serta sumber daya seperti kapasitas pemadaman kebakaran yang diperlukan untuk melindungi hutan konservasi. Dalam banyak kasus, perkebunan juga berfungsi sebagai penghalang fisik untuk mencegah pencaplokan kawasan konservasi.

Sebagai bagian dari komitmen APRIL2030, APRIL berkomitmen mengalokasikan US$1 per ton serat perkebunan yang dikirim ke tempat pengumpulan kayu setiap tahunnya untuk mendukung dan mendanai secara berkelanjutan kawasan konservasi dan restorasi ini. Pungutan internal unik ini memungkinkan kami mengalokasikan US$14,8 juta untuk konservasi hanya pada tahun 2024 saja, dengan total lebih dari US$75 juta sejak tahun 2020.

Melalui komitmen satu-untuk-satu, APRIL berjanji untuk melestarikan satu hektare hutan alam untuk setiap hektare perkebunan.

APRIL's production-protection model integrates plantations and conservation forests to support long-term conservation funding.

Proyek Restorasi Ekosistem Riau (RER) APRIL

Dalam proyek restorasi RER unggulannya, APRIL telah mengembangkan ‘cincin perkebunan’ untuk membentuk penghalang fisik yang melindungi hutan gambut alami dari pencaplokan dan degradasi lahan. Perkebunan akasia dikembangkan sebagai bagian dari pengembangan perkebunan serat berkelanjutan berizin, sebagian besar di atas hutan yang paling terdegradasi di sekeliling Semenanjung Kampar dan Pulau Padang. Perkebunan ini membentuk zona penyangga yang melestarikan kawasan restorasi dan konservasi kubah gambut yang secara ekologis penting.

Cincin perkebunan ini tidak hanya melindungi hutan dan keanekaragaman hayatinya – namun juga berkontribusi pada:

  • Pengelolaan air
  • Pencegahan dan pengendalian kebakaran
  • Pengendalian penurunan permukaan gambut dan emisi karbon

Pengelolaan aktif terhadap perkebunan maupun hutan restorasi memastikan kapasitas respons kebakaran yang cepat selalu tersedia. Selain itu, APRIL bekerja sama dengan komunitas sekitar dalam program pencegahan kebakaran.

Model produksi-proteksi

Empat prinsip utama model produksi-proteksi APRIL:

01.

Menjaga integritas ekosistem

Memperkuat integritas ekosistem dan meningkatkan jasa ekosistem di lanskap yang terdegradasi melalui hutan perkebunan yang dirancang dengan baik.

02.

Melindungi dan meningkatkan kawasan Nilai Konservasi Tinggi (HCV)

Melindungi kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk zona riparian. Meningkatkan habitat alami spesies langka, terancam, dan hampir punah.

03.

Keterlibatan pemangku kepentingan

Membangun dan menjaga hubungan positif melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan, termasuk komunitas lokal.

04.

Pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja

Menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada perekonomian nasional serta kesejahteraan komunitas lokal.

Apa itu pendekatan lanskap

APRIL menerapkan apa yang dikenal sebagai pendekatan lanskap, yang berarti melihat kawasan yang lebih luas dan bukan hanya sebidang lahan secara individual. Hal ini mencakup pertimbangan bukan hanya faktor seperti produktivitas, tetapi juga modal alam, seperti satwa liar, tanah, dan jasa ekosistem.

Berdasarkan Kebijakan Pengelolaan Hutan Lestari (SFMP) 2.0 milik APRIL, perusahaan menerapkan moratorium penuh terhadap deforestasi. Semua kawasan hutan dinilai secara independen untuk menentukan Nilai Konservasi Tinggi (HCV) atau Stok Karbon Tinggi (HCS)-nya.

Kawasan HCV dapat diidentifikasi berdasarkan:

  • Keberadaan spesies langka atau terancam
  • Jasa ekosistem (misalnya air bersih)
  • Kepentingan budaya atau sejarah

Penilaian HCS berfokus pada potensi penyimpanan karbon hutan berdasarkan tutupan vegetasinya.

Kawasan dengan nilai HCV atau HCS tinggi dapat dialokasikan untuk konservasi, sementara lahan terdegradasi dengan nilai yang lebih rendah lebih sesuai untuk perkebunan.

Studi akademik tentang produksi-proteksi

Model produksi-proteksi APRIL menjadi subjek sebuah studi kasus oleh Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), yang menjelaskan bagaimana APRIL “mengambil langkah-langkah untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan lingkungan dalam produksi kertas, dengan mempertimbangkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah Indonesia, komunitas lokal, dan konsumen”.

Peneliti LKYSPP dan penulis studi kasus, Tara Thean, melakukan serangkaian kunjungan langsung ke lapangan di Kerinci, serta wawancara dengan jajaran manajemen senior perusahaan, termasuk Ketua APRIL Bey Soo Khiang.

“Studi kasus ini menceritakan upaya sebuah perusahaan dalam menyeimbangkan tuntutan pertumbuhan dan keberlanjutan di Sumatra, Indonesia, di tengah regulasi pemerintah, sorotan publik, dan tekanan sosial ekonomi,” kata Thean.